Kita mengetahui bahwa perlu adanya
deteksi dini pada anak di usia dini mereka sebagai bentuk pemeriksaan atau
kegiatan untuk menemukan gangguan tumbuh kembang anak sejak dini. Diasumsikan
bahwa jika gangguan ditemukan pada anak sejak dini akan lebih mudah diperbaiki
dan mendapatkan penanganan lebih intensif pada gangguan yang dialami.
Jika
tidak tidak terdapat gangguan (anak normal), adanya tindakan stimulasi
dini sangat berperan. Stimulasi dini merupakan kegiatan
perangsangan dan latihan-latihan terhadap kepandaian anak yang datangnya dari
lingkungan di luar anak, dengan tujuan membantu anak mencapai tingkat
perkembangan yang optimal sesuai tahapan usianya. Sedangkan jika terdapat
gangguan terhadap anak, bentuk penanganan yang diambil adalah intervensi
dini. Intervensi dini merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar
anak,tujuannya adalah untuk mengejar ketertinggalan dan agar penyimpangan yang
terjadi tidak bertambah berat, intervensi dini dilakukan pada anak
dengan hambatan perkembangan atau yang memiliki faktor resiko.
Setelah kita telaah bagaimana
pentingnya suatu diagnosis dini atau deteksi dini pada anak , maka saya akan
ulas deteksi dini yang lebih spesifik untuk anak Autistik, sebelumnya kita
telah membahas tentang bagaimana Anak autistik pada artikel sebelumnya yang
berjudul “Siapakah Anak Autistic Disorders? Kenali Mereka Lebih Dekat”. Sekarang
kita akan mengulas deteksi dini untuk anak Autistik. Anak autistik merupakan
anak dengan hendaya perkembangan atau developmental disorders. Kelainannya
sangat memperngaruhi diri anak yang bersangkutan dalam berbagai aspek
lingkungan kehidupan dan pengalaman-pengalamannya.
Pada taun 1943, Leo Kanner mengemukakan tentang anak-anak dengan gejala autistik
yang disebut early infantile autism atau autistik usia dini. Tahun berikutnya
Han Asperger mengemukakan tentang sekelompok anak yang mempunyai tanda-tanda (symptoms) saling bersamaan seperti kasus Kanner, meskipun keduanya tidak saling
mengenal dan tidak saling berhubungan. Banyak orang berpendapat bahwa sindrom
autistik merupakan hendaya yang sama dengan asperger’s
syndrome, tetapi terdapat perbedaan dalam keterampilannya. (Firth, 2001 dalam Nelson, R. W. dan Israel, A.
C., 2009: 327).
Para ahli mengatakan sekitar 4 anak
atau 5 anak dari 10.000 anak-anak usia sekolah mempunyai perilaku sebagai anak
autistic(Alloy, L. B., 2005:493; American Psychiatric Association, 2000;
Siegel, B., 1996: 12; Costin, F.dan Draguns, J. G., 1989:
468; Batshaw, M. L. dan Perret, Y. M., 1986: 251; Wing, L., 1972: 3). Berdasarkan
diagnosis tanda-tanda anak autistik, Siegel, B. (1996) menyatakan sebagai
berikut.
“Autism is a
developmental disorders that affects many aspects of how a child sees the world
and learns from his or her experiences. Children with autism lack the usual desire
for social contact. The attention and approval of others are not important to
them in the usual way. Autism is not an absolute lack of desire for affliation,
but relative one (Siegel,B. 1996: 9)”
Pernyataan tersebut jika di
bahasakan secara bebas dalam bahasa Indonesia mempunyai arti sebagai berikut.
1. Anak
autistik merupakan anak dengan hendaya perkembangan pervasive.
2. Banyak
aspek tentang bagimana mereka melihat dunia dan belajar dari
pengalaman-pengalamannya.
3. Anak-anak
autistik tidak menampakkan keinginan untuk melakukan kontak sosial.
4. Atensi
dan persetujuan dari orang lain tidak penting untuk mereka seperti lazimnya
cara-cara yang dilakukan orang normal.
5. Anak
autistic tidak mempunyai keinginan untuk bergabuung dengan orang lain, kecuali
jika dirinya sendiri yang menginginkannya.
Berdasarkan
laporan International Journal of Special Education (2002, Volume 12, No. 2),
Laughlin menyatakan bahwa anak autistik merupakan anak dengan kelainan khusus
yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut.
1.
Hendaya perilaku yang kompleks dan
meluas.
2.
Kelainan spesifik yang kemunculannya
diketahui pertama kali pada usia tiga tahun.
3.
Anak autistik merupakan anak yang
menderita penyakit di sepanjang kehidupannya dan termasuk tingkatan sangat
berat .
4.
Anak autistic merupakan anak berkelainan
dengan karakteristik serius terhadap kemampuan berbahasa, merespon secara tidak
normal, keterampilan sosialnya mengalami kemunduran, dan ketiadaan motivasi.
5.
Ada dua tipe anak autistic, yaitu
infantile autism jika ia mempunyai hendaya perilaku patologis sejak beberapa
saat dalam sebulan kehidupannya serta mereka yang menunjukkan gejala-gejala
normal jika mampu berbicara dan berperilaku baik, tetapi secara tiba-tiba semua
keterampilannya hilang. (Schreibman, 1988 dalam Laughlin, 2002: 1).
Penelitian terperinci berkaitan dengan
ekspresi emosional penyandang sindrom autistik menunjukkan bukti bahwa mereka tidak
menatap wajah orang yang diajak berbicara, seperti umumnya orang normal saat
berkomunikasi. Biasanya dalam berkomunikasi verbal, seseorang mempu menatap
wajah orang yang diajak berkomunikasi dan matanya difokuskan pada mata lawan
bicaranya. Sedangkan anak autistik saat berhadapan dengan orang lain banyak
tertuju pada dagu orang lawan bicaranya sehingga mereka tidak dapat menangkap
informasi bermakna dari ekspresi wajah seseorang. Kekurangan dalam menanggapi
persepsi wajah berkecendrungan menjadikan seseorang mempunyai autistic brain.
Anak autistic banyak menunjukkan emosi
negatif (Kasari, Sigman, Baumgartner, dan Stipek, 1993 dalam Wenar, C. dan
Kerig, P., 2006: 146). Anak autistic juga jarang menunjukkan rasa senang secara
langsung terhadap pengaruh langsung temannya, seperti senyum atau yang member
perhatian kepadanya. Jadi, yang hilang pada anak autistic adalah emosi yang
merupakan salah satu bagian penting dalam interaksi timbal balik.
Demikian sedikit ulasan diagnosis dini
anak autistic yang dapat saya tulis, semoga kita dapat mengambil inti sari dari
artikel ini.
Sumber : Buku Pendidikan Anak Autistik (Prof. Dr. Bandi Delphie, M.A., S.E.)
Sumber : Buku Pendidikan Anak Autistik (Prof. Dr. Bandi Delphie, M.A., S.E.)
No comments:
Post a Comment