Sunday, November 17, 2013

TAHUKAH KALIAN HENDAYA YANG DIALAMI ANAK DI LUAR KEWAJARAN?


Kita telah mengenal tentang pengertian dasar tentang anak dengan sindrom autistic pada artikel-artikel yang telah dipostkan sebelumnya. Pada kali ini saya ingin mengangkat tentang hendaya-hendaya pada anak di luar kewajaran yang membuat mereka terkendala karenanya.
Anak di luar kewajaran merupakan istilah lain terhadap anak autistic yang mempunyai gejala-gejala autistic. Gejala kelainan tersebut adalah :
-          isolasi sosial (social isolation)
-          hendaya perkembangan fungsional (mental retardation)
-          ketidakmampuan berbahasa (language deficits)


Dari 3 gejala kelainan yang ada, kita akan membahas satu persatu tentang gejala kelainan tersebut.
1.      Isolasi Sosial
Anak dengan sindrom autistic seringkali menghindarkan diri dari hubungan sosial dan lebih cenderung ke arah hidup dengan kesendirian yang ekstrem. Pada saat masa bayi secara nyata anak dengan penyandang sindrom autistic tidak tertarik terhadap orang lain yang ada disekitarnya.
            Coleman (1989:1 dalam Alloy, L. B., 2005:493) menggambarkan tentang anak penyandang sindrom autistic sebagai berikut.
“ia secara diam-diam sering berjalan jinjit saat memasuki ruang tunggu keluarga. Pandangan matanya atau tatapannya selalu dipalingkan jika bertemu pandangan dengan orang lain. Boneka mainan kesukaannya selalu dipegang dan  diputar-putarkan dari waktu ke waktu. Ketika seseorang mulai menaruh perhatian dan memerhatikannya, ia selalu berusaha menghindarkan diri, khususnya saat tangan anda hendak menyentuh kepalanya. Pandangan matanya selalu diarahkan ke luar jendela ketika diketahui ada seseorang berada di dekatnya. Ia terlihat selalu ingin menyendiri ssecara total dan hidup dengan dunianya sendiri secara sendirian.”
          Tingkat isolasi sosial penyandang sindrom autistic sangat beragam, kebanyakan bergantung pada umur. Anak penyandang autisik yang usianya mendekati remaja sangat tergantung kepada ibunya. Cirri-cirinya adalah suka berpegangan erat pada ibunya ketika ada orang asing muncul di dekatnya (Copps, Sigman, dan Mundy, 1994; Sigman dan Mundy, 1989 dalam Alloy, L. B., 2005: 495). Kebanyakan anak tersebut pada masa menginjak dewasa , perasaan takut untuk berhubungan dengan orang lain akan menjadi parah.
          Menurut Wing, L.(1972:24) anak dengan sindrom autistic mempunyai kesulitan berperilaku dan bermasalah dalam emosionalnya. Penyebabnya adalah ia kurang mampu memahami dirinya terhadap lingkungan di sekelilingnya.
2.      Hendaya Perkembangan Fungsional pada Anak Autistik
          Sekitar 76% hingga 89% anak autistic mempunyai skor IQ di bawah 70 (Poryson, Clark, dan Gillberg, 1986 dalam Alloy, L. B.,2005:494-495). Meskipun begitu, anak autis berbeda dengan anak tunagrahita jika ditinjau berdasarkan ketidakmampuan kognitifnya.
3.      Ketidakmampuan Berbahasa (Language Deficits)
          Menurut realita yang ada, hamper lebih separuh anak autistic tidak mampu berbicaram dan separuhnya lagi hanya mampu berceloteh yang maknanya sulit dipahami oleh orang lain, anak autis lebih cendeung hanya mampu berbicara ketika berkomunikasi dengan cara-cara yang sangat terbatas dan menggunakan kata ganti orang secara aneh. Contohnya mengucapkan kata gantidirinya (saya) dengan kata ganti (kamu) atau dengan kata ganti orang ke tiga (dia). Anak autistic juga sering melakukan echokakia, yaitu kemampuan menirukan secara persis ucapan atau kata-kata yang telah diucapkan orang lain, tetapi ia sendiri tidak mengerti maknanya. Hal ini juga dikuatkan dari (Alloy, L. B.,2005:496) Paada beberapa anak autistic kemampuan mengucapkan kata-kata tanpa tujuan tertentu pada umumnya diperoleh dari orang lain.
          Anak autistic tidak dapat berkomunikasu secara timbale balik serta tidak dapat menggunakan kata-kata umum yang digunakan sebagai oleh orang pada umumnya. Perlu adanya terapi penyembuhan tersendiri agar anak mampu mengembangkan kemampuan berbicara yang bermakna. Terapi permainan dilakukan semenjak mereka berusia lima tahun (Werry, 1996; Kobyashi, Murata, dan Yoshigama, 1992; Venter, Lord, dan Schopler, E., 1992 dalam Alloy, L. B., 2005: 496).



Sumber : Buku Pendidikan Anak Autistik (Prof. Dr. Bandi Delphie, M.A., S.E.)

1 comment:

Unknown said...

artikelnya sudah bagus.tata letaknya juga rapi.