Kita
tentu sering mendengar atau bahkan sering menemukan Anak yang mengalami
syndrome autistic, tapi banyak dari kita yang belum mengenal dan memahami
secara spesifik tentang Anak Autistik, pada artikel ini akan dibahas tentang
Anak Autistik agar kita lebih memahami mereka. Anak autistik merupakan anak
dengan hendaya perkembangan atau developmental disorders, kelainannya sangat
memengaruhi diri anka dalam berbagai aspek lingkungan kehidupan dan
pengalaman-pengalamannya.
Dalam
kehidupan, masyarakat mengenali anak dengan sindrom autistik sebagai hendaya
perkembangan pervasif atau pervasive developmental disorders (PDD). Namun,
Siegel, B. (1996:9) memberikan gambaran secara terperinci tentang hubungan yang
erat di antara asperger’s syndrome, fragile-X
syndrome,retts syndrome, dan anak-anak dengan hendaya disintegrative
yang berbeda dalam kelompok hendaya perkembangan pervasive (PDD). Hal ini
kemudian menghindari salah pengertian di antara masyarakat, dapatlah dikatakan
bahwa perlu adanya pemahaman dalam membedakan kata anak autistik (autistic
disorders atau autism) dengan PDD yang dikenal dengan istilah autistic spectrum
disorders.
Anak yang mengalami sindrom autistik
(autism) dengan kelainan yang serius sejak usia dini terlihat dari sikap
dirinya yang selalu berusaha menghindar dari kontak sosial, bahkan terhadap
orangtuanya. Penyandang kelainan sindrom semacam ini awalnya ditemukan oleh Leo
Kanner (1943; dalam Ward, A. J., 1970: 350) yang disebut dengan early infantile
autism atau anak autistic dini. Kata autism berasal dari bahasa Yunani Kuno
atau Greek yang berarti self atau diri sendiri, jadi mereka cenderung hidup
dalam dunianya sendiri. Banyak juga diantara mereka suka menyakiti dirinya
sendiri dan berperilaku sangat ekstrim, misalnya suka melakukan kegiatan gerak
yang sama selama berjam-jam setiap waktu atau stereotype (Alloy, L. B. 2005:
93).
Dalam
tulisannya, Leo Kanner (1943) memberikan definisi tentang kelainan anak autistic
usia dini sebagai tipe kelainan psikis yang sampai sekarang tidak terungkapkan.
Tentunya harus dibedakan antara penderita autistic, penderita schizophrenia
masa kecil, dan juga dengan penderita oligophrenia yang potensi intelektualnya
lebih baik dibandingkan dengan penderita sindrom autistic (Leo Kanner dan
Eisenberg, 1956: 557).
Secara umum anak dengan syndrome
autistic memiliki ciri-ciri :
- - kesulitan mengenal dan merespon dengan emosi dan isyarat sosial
- - tidak bisa menunjukkan perbedaan ekspresi muka secara jelas
- - ekspresi emosi kaku
- - sering menunjukkan perilaku dan meledak-ledak (tantrum)
- - menunjukkan perilaku yan bersifat stereotype (meniru / mengulang)
- - sulit untuk diajak berkomunikasi secara verbal
- - cenderung menyendiri
- - sering mengabaikan situasi disekelilingnya.
SSumber : Buku PENDIDIKAN ANAK AUTISTIK (Prof. Dr. Bandi Delphie, M.A., S.E.)
No comments:
Post a Comment